Berita hari ini

12 “Penyakit” UKG Gelombang Dua, Apa Saja?
JAKARTA, KOMPAS.com – Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) kembali melaporkan permasalahan yang terjadi dalam Uji Kompetensi Gelombang (UKG) dua. Sebanyak 12 masalah dipaparkan oleh FSGI yang datang ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikibud) dengan didampingi oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Sekretaris Jendral FSGI, Retno Listyarti, mengatakan bahwa pihak telah membuka posko pengaduan pelaksanaan UKG dari berbagai daerah sejak gelombang pertama. Saat memasuki gelombang dua ini, wilayah yang mengalami kendala UKG meluas menjadi 17 daerah.

“Data yang masuk kami olah, dari situ didapat penyakit UKG dua yang berhasil diidentifikasi. Muncul 12 masalah,” kata Retno, di gedung D Kemendikbud, Jakarta, Kamis (18/10/2012).

Adapun 12 masalah yang berhasil diidentifikasi pada UKG dua yaitu tidak terkoneksinya server pusat. Kendala ini terjadi di Jakarta dan Brebes. Untuk Jakarta, kejadian terjadi di SMA Negeri 13, SMA Negeri 18 dan SMA Negeri 41 pada hari pertama UKG. Akibatnya, jadwal UKG menjadi mundur dan guru yang ujian pada jam kedua terpaksa tidak bisa mengajar hari itu.

“Kalau di Brebes, pada hari pertama sekitar 20 TUK servernya baru terkoneksi pada pukul 13.00. Akibatnya para guru diminta datang lagi hari lain,” ujar Retno.

Permasalahan kedua adalah soal yang tidak vali dan tidak reliabel terjadi di Bogor, Sukabumi, Brebes, Slawi, Kediri, Medan, Tembilah Kota, Indragiri hilir, Bukit Tinggi, Padang, Jakarta dan Makassar. Masalah ini meliputi soal atau jawaban yang tidak keluar sehingga membuat peserta menebak apa yang akan dijawabnya.

Permasalahan ketiga adalah salah bidang studi, semisal guru SMK dengan jurusan tertentu diberi soal Bahasa Jepang. Kemudian permasalahan empat adalah tidak ada kisi-kisi soal UKG untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA.

Permasalahan kelima adalah data peserta yang tidak sesuai terjadi di Jakarta, Bogor, Garut, Brebes, Slawi, Medan dan Indragiri Hilir. Permasalahan keenam adalah minimnya sosialisasi yaitu pemberian undangan yang sangat mendadak sehingga para guru kurang persiapan.

Permasalahan ketujuh adalah pihak berwenang tidak bisa menjelaskan persoalan yang dihadapi para guru. Selanjutnya, permasalahan kedelapan adalah pelaksanaan UKG tidak serius terkesan yang penting proyek jalan.

“Contohnya ada saja laporan pengawas dan panitia dari LPMP terlambat datang sampai satu jam. Ini kan jadi menghambat,” ujar Retno.

Permasalah kesembilan adalah tidak keseimbangan penyebaran soal. Semestinya sebara soal sesuai ketetapan Kemendikbud, 70 persen kompetensi profesi dan 30 persen kompetensi pedagogi. Namun sayangnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA, sebarannya berubah yaitu 59 persen kompetensi profesi dan 41 persen kompetensi pedagogi.

Persoalan kesepuluh adalah muncul soal untuk mata pelajaran seni budaya yang menggunakan bahasa daerah bukan bahasa Indonesia. Persoalan kesebelas adalah tidak ada soal untuk bidang jurusan SMK program keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR).

Persoalan terakhir adalah teguran atasan untuk guru yang memboikot UKG. Ini terjadi di Jakarta, Medan, Brebes dan Indragiri Hilir. Sebagian guru yang merupakan anggota FSGI memboikot UKG dua karena masih proses sengketaa hukum. Untuk itu, para guru ini diminta membuat surat pernyataan oleh atasannya atas alasan tidak ikut UKG.

Mengapa Anak Tak Pantas Menyanyikan Lagu Dewasa
Penulis : Hesti Pratiwi | Selasa, 16 Oktober 2012 | 14:03 WIB

KOMPAS.com – Musik menjadi materi hiburan yang sangat universal. Banyak penelitian yang menjelaskan hubungan musik dengan kecerdasan hingga tumbuh kembang anak. Semua menunujukan korelasi yang positif. Musik bisa menjadi alat untuk menumbuhkan kemampuan komunikasi, emosi hingga sosial.

Tapi pertanyaannya kemana musik anak saat ini? Sekarang anak-anak lebih suka menyanyikan lagu orang dewasa. Apakah ini punya dampak buruk?

Karina Adistiana, M.Psi, Psikolog Pendidikan sekaligus pendiri gerakan Peduli Musik Anak mengatakan, “ Musik anak itu banyak dan ada, hanya saja orang dewasa tak mau mencarinya.”Saat ditemui  dalam acara Social Media Fest, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu ( Karina menjelesakan lebih lanjut, “Saya mencari dan tak menemukan dampak buruk musik terhadap anak, mungkin liriknya yang bisa berpengaruh . Bila anak menyanyikan lagu tentang perselingkuhan tentu belum saatnya,” jelasnya.

Menurutnya perkembangan kecerdasan anak itu bertahap, juga pemahamannya terhadap sekitar. “Misalnya anak TK masanya sedang belajar bersosialisasi, mencoba mengerti arti pertemanan. Janganlah dulu dijejalkan oleh konsep abstrak seperti perselingkuhan.” Karina melanjutkan, proses belajar anak harus berawal serta berasal dari konsep yang nyata dulu, atau sesuatu yang dekat dengan kesehariaan.”

Sebagai orang tua sudah seharusnya mencari sebanyak-banyaknya, memilih lagu serta hiburan yang sesuai dengan anak dan juga nilai di keluarga Anda.  Karina menyarankan langkah mudah mendidik anak lewat musik. Pertama pilah-pilih musiknya lalu menyanyi bersamanya.“Nilai yang sesuai dengan tiap keluarga sangat berbeda, ada yang mengedapankan pendidikan akademis, ada yang kejujuran, ada yang membantu orang. Nah, cara paling mudah menyenangkan untuk mendidik anak dan menyampaikan nilai positif tersebut pada anak lewat lagu.”

Kejujuran, saling menolong, suka membantu nilai positif itu bisa ditanamkan lewat menyanyi bersama.

PSIKOLOGI – ARTIKEL

Bolehkah Anak Dikenalkan Banyak Bahasa?

Asep Candra | Rabu, 2 Mei 2012 | 18:49 WIB
KOMPAS.com –Sebagian orang tua khawatir dengan perkembangan anak-anaknya ketika sang buah hati mereka tumbuh di lingkungan dengan beragam bahasa. Ketika anak-anak, khususnya di usia prasekolah, harus dikenalkan pada bahasa asing selain bahasa ibu, banyak orang tua cemas karena belajar banyak bahasa akan menyebabkan anak mengalami kebingungan.Akan tetapi, menurut pendapat pakar pendidikan anak usia dini yang juga psikolog pendidikan, Novita Tandry M.Psi, memperkenalkan beragam bahasa kepada anak di usia dini (di bawah 6 tahun) pada dasarnya tidak menimbulkan masalah, selama anak tersebut tidak mengalami kendala dalam kemampuan berbicara (speech).”Semakin dini anak mengenal suatu bahasa, akan semakin baik untuk kemampuan bahasa mereka,” ungkap Novita di sela-sela acara pembukaan SGM Prestasi Center di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (1/5/2012).Novita menjelaskan, memperkenalkan suatu jenis bahasa kepada anak di usia dini adalah salah satu bentuk stimulasi linguistik. Bagi anak-anak yang tidak bermasalah dengan kemampuan bicaranya, stimulasi menggunakan beberapa bahasa tidak akan menjadi masalah. Ia memberikan contoh, anak-anak usia dini di negara-negara tetangga memiliki kemampuan bahasa yang lebih beragam karena faktor lingkungan yang sangat mendukung.

“Di negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, anak-anak sudah terbiasa mengunakan empat bahasa sekaligus saat mereka berusia 3 atau 4 tahun. Tiga bahasa lain yang mereka gunakan didapat dari lingkungannya,”tegas Novita.

Oleh karena itu, ia berpendapat selama anak-anak tidak mengalami gangguan dalam kemampuan berbicara, pengenalan bahasa lain di usia dini tidak menjadi masalah, bahkan dianjurkan.  Hal sama tentu tidak berlaku untuk anak yang memiliki masalah dengan bahasa. Pada anak dengan gangguan bicara, lanjut Novita, penguasaan bahasa ibu harus diutamakan, sebelum dikenalkan pada bahasa lain.

“Pengenalan beragam bahasa adalah masalah konsistensi, bagaimana ayah dan ibu berbagi peran untuk mengajarkan bahasa kepada anak,” ujar alumni University of New South Wales Australia ini.

Novita juga menekankan pentingnya stimulasi bagi anak-anak di usia dini demi perkembangan kecerdasan mereka. Selain dari orang tuanya di rumah, stimulasi juga kini dapat diperoleh anak-anak melalui pendidikan informal seperti pusat tumbuh kembang anak usia dini. Bentuk stimulasi antaranya meliputi stimulasi fisik untuk mengasah perkembangan motorik kasar dan halus, stimulasi kognitif untuk perkembangan intelektual dan stimulasi linguistik untuk kemampuan berbahasa.

“Banyak orang tua menganggap pendidikan anak usia dini tidak begitu penting dengan alasan anaknya menjadi stres atau kehilangan masa bermain.  Padahal 70 persen pembentukan karakter manusia itu dimulai dari nol hingga tiga tahun,” ujarnya.

KOMPAS.com – US Environmental Protection Agency (EPA) telah menetapkan bahwa air minum dengan tingkat rendah arsenik di bawah 10 parts per billion (ppb) dianggap tidak beracun dan dapat untuk dikonsumsi manusia.

Namun, penelitian baru mengungkapkan bahwa air minum dengan tingkat arsenik 10 ppb mungkin tidak begitu aman untuk diminum.

Para peneliti dari Marine Laboratory di Woods Hole, Mass dan Geisel School of Medicine di Dartmouth telah menemukan bahwa air minum dengan tingkat rendah arsenik (10 ppb) dapat merangsang efek yang merugikan bagi kesehatan pada tikus yang sedang hamil dan menyusui, serta untuk bayi mereka.

Percobaan sebelumnya menunjukkan bahwa paparan arsenik yang rendah pada air minum menyebabkan tikus memiliki respon imun yang lebih rendah dan menjadi lebih rentan terhadap flu. Bahkan peneliti juga telah menemukan efek yang lebih besar khususnya pada tikus yang terpapar arsenik saat di dalam rahim dan ketika bayi.

“Tujuan awal kami adalah untuk mengulang kembali studi tentang flu. Kami memberikan air minum yang mengandung arsenik untuk tikus yang sedang hamil dan melihat dampaknya terhadap bayi di rahim dan saat menyusui,” kata Dr Yosua Hamilton, dari Marine Biological Laboratory, salah satu penulis utama studi tersebut.

“Kemudian kami akan mengambil arsenik dan melihat bagaimana reaksi arsenik dapat memicu flu. Memberikan tikus dengan kandungan arsenik 10 ppb di dalam air menyebabkan bayi mereka menjadi jauh lebih kecil,” tambahnya.

Peneliti mengatakan, pemberian air minum dengan kandungan arsenik pada tikus yang hamil atau menyusui berisiko memicu masalah dengan metabolisme lipid, yang menyebabkan tingkat lebih rendah dari nutrisi dalam darah dan ASI. Kekurangan nutrisi mengakibatkan lambatnya pertumbuhan dan perkembangan pada bayi tikus.

“Dalam darah dan ASI, ada penurunan signifikan pada trigliserida – yang merupakan nutrisi penting untuk ibu dan bayi tikus,” kata Hamilton. “Itu alasan utama mengapa bayi-bayi tikus itu terlambat berkembang. Ketika kami melakukan percobaan pada anak anjing yang baru lahir di mana induknya terpapar arsenik dan kemudian menggantinya dengan makanan tanpa kandungan arsenik, mereka dapat pulih kembali,” jelasnya.

Pada tahun 2006, EPA telah menetapkan standar arsen untuk air minum yakni sebesar 10 bagian per miliar (ppb) untuk melindungi konsumen dari dampak buruk yang terkait dengan paparan arsenik dalam jangka panjang. Menurut EPA, komplikasi yang bisa ditimbulkan termasuk diantaranya mual, muntah, diare, kelumpuhan parsial, kebutaan, dan peningkatan risiko berbagai jenis kanker.

Para peneliti mengatakan, percobaan pada tikus tidak selalu berdampak sama terhadap manusia karena secara fisiologis berbeda. Namun Hamilton mengingatkan, percobaan pada binatang ini harus menjadi peringatan karena dapat menjadi prediksi bagaimana sesuatu akan bereaksi pada manusia.

“Saya pikir sebagai komunitas dalam toksikologi, tingkat 10 ppb arsenik pada air minum mungkin tidak cukup aman untuk manusia. Ini (arsenik) adalah kimia yang sangat unik,” kata Hamilton.

Tim peneliti berharap dapat melakukan percobaan lebih lanjut untuk memahami apa sebenarnya yang terjadi pada fisiologi tikus, serta untuk melihat apakah perlu bagi EPA untuk menurunkan standar arsenik.

“Kita mungkin bisa untuk menurunkan standarnya menjadi 2-3 ppb. Air dengan tingkat arsenik seperti ini bisa dikatakan bahwa mereka telah memenuhi standar,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s